Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan

Mandiri dalam usaha (Qodirun Alal Kasbi)


Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim, merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi.

Karena, pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan ibadah haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al Qur’an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.

Teratur dalam urusan (Munazhzhamun fi syuunihi)

Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur’an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.

Dengan kata lain, suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional. Apapun yang dikerjakan, profesionalisme selalu diperhatikan. Bersungguh-sungguh, bersemangat, berkorban, berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan merupakan hal-hal yang mesti mendapat perhatian serius dalam penunaian tugas-tugas.

Pandai menjaga waktu (Harishun Ala Waqtihi)

Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur’an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.

Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi.

Berjuang melawan hawa nafsu (Mujahadatul Linafsihi)

Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan.

Kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)

Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Dimana salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas). Al Qur’an juga banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berfikir, misalnya firman Allah yang artinya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: “pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah ALLAH menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir” (QS. Al-Baqarah [2]: 219)

Qowiyyul Jismi (Kekuatan Jasmani)

Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. 

Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Apalagi berjihad di jalan ALLAH dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.

Keteguhan Akhlak (Matinul khuluq)

Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah SWT maupun dengan makhluk-makhlukNya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.

Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an. Allah berfirman yang artinya:

Ibadah yang benar (Shahihul Ibadah)...

Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: ’shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.’ Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

Hendaknya seseorang tidak mengira bahwa yang dimaksud beribadah sepenuhnya adalah dengan meninggalkan usaha untuk mendapatkan penghidupan dan duduk di masjid sepanjang siang dan malam. Tetapi yang dimaksud adalah hendaknya seorang hamba beribadah dengan hati dan jasadnya, khusyu’ dan merendahkan diri di hadapan Allah Yang Mahaesa, menghadirkan (dalam hati) betapa besar keagungan Allah, benar-benar merasa bahwa ia sedang bermunajat kepada Allah Yang Maha Menguasai dan Maha Menentukan. Yakni beribadah sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits.

Aqidah yang lurus (Salimul Aqidah)


Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan- ketentuan-Nya.

Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam" (QS 6:162).

Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da’wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.

Adab dalam bertetangga...

Memilih tetangga yang shalih

Istilah arab, al-Jaar qablad daar. Pilih tetangga sebelum pilih rumah. Karena tetangga yang baik merupakan salah satu ketenangan dan kebahagiaan. Rasulullah SAW bersabda, "Empat perkara yang dapat mendatangkan kebahagiaan: wanita (istri) yang shalihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang shalih, dan kendaraan yang bagus." (HR Ahmad).

Menjadi tetangga yang baik bagi tetangganya

Nabi SAW bersabda: “Sebaik-baik tetangga di sisi Allah SWT adalah orang yang paling baik dengan tetangganya.” HR. Al-Bukhari dalam Adabul Mufrad.

Memuliakan tetangga...

Peranan penting dalam membangun masyarakat Islam, setelah keluarga adalah tetangga. Sehingga Islam mewajibkan pemeluknya untuk senantiasa berbuat baik dengan tetangga, menjaga hak dan memelihara hubungan dengannya.

Tanda iman serta penyempurnanya.

Salah tanda dan cabang iman adalah berbuat baik dengan tetangga. Siapa saja yang menyakitinya, maka ia dianggap imannya tidak sempurna iman. Dalam surat An-Nisa’ ayat ke 36, Allah menyambung hak tetangga setelah ibadah dan tauhid-Nya.

Pada riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

Berawal dari Ma'rifatullah...

Dalam sebuah riwayat menyatakan bahwa perkara pertama yang mesti dilaksanakan dalam agama adalah mengenal Allah (awwaluddin ma’rifatullah).  Bermula dengan mengenal Allah, maka kita akan mengenali diri kita sendiri.  Siapakah kita, dimanakah kedudukan kita berbanding mahluk-mahluk yang lain, apakah sama misi hidup kita dengan binatang-binatang yang ada di bumi ini, apakah tanggung jawab kita dan kemanakah kesudahan hidup kita.  Semua persoalan itu akan terjawab secara tepat setelah kita mengenali betul-betul Allah sebagai Rabb dan Ilah.  Yang Mencipta, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan dan seterusnya.

Pentingnya Ma'rifatullah...

Mungkin ada di kalangan kita yang bertanya kenapa pada saat ini kita masih perlu berbicara tentang Allah padahal kita sudah sering mendengar dan menyebut nama-Nya dan kita tahu bahawa Allah itu Tuhan kita.  Tidakkah itu sudah cukup untuk kita ?

Saudaraku, jangan sekali kita merasa sudah cukup dengan pemahaman dan pengenalan kita terhadap Allah karena semakin kita memahami dan mengenali-Nya kita merasa semakin dekat dengan-Nya.  Agar kita terhindar dari pemahaman-pemahaman yang keliru terhadap Allah dan terhindar juga dari sikap-sikap yang salah terhadap Allah.

Iqomatu Dienillah (Menegakkan Agama Allah)...

Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya.

Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

Tugas Rasul...

Tugas Rasul dapat dibagi kepada dua yaitu menyampaikan risalah dan menegakkan dienullah. Kedua tugas ini adalah intisari dari perintah Allah SWT dan amalan dakwah Nabi Muhammad SAW.

Risalatud dakwah yang dibawa oleh Nabi adalah memperkenalkan masyarakat Jahiliyah kepada penciptanya, perkara ini tidaklah begitu sukar karena setiap manusia mempunyai fitrah untuk menerima kholiq. Setelah itu menjadikan mereka sebagai muslim.

Sebagai muslim, perlu untuk mengetahui bagaimana cara beribadah dan mengikuti Islam. Tugas Rasul diantaranya adalah menjelaskan cara pengabdian kepada Allah, menjelaskan Islam sebagai panduan hidup. Usaha menyampaikan risalah secara berkesan dengan melaksanakan tarbiyah Islamiyah iaitu dengan menekankan kepada arahan dan nasihat.

Segala perbuatan yang dicintai dan diridhai Allah

Allah SWT berfirman : "Dan beribadahlah kepada Tuhanmu sampai mati mendatangimu," (Al-Hijr:99). Dan Allah juga berfirman : "Dan tidaklah aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku" (QS. Adz-Dzariyat:56)

Allah menciptakan manusia bukan untuk sia-sia, tetapi karena tujuan mulia yaitu untuk beribadah kepada-Nya. Ibadah adalah kata yang mencakup segala hal yang dicintai dan diridhoi Allah SWT.
 
Kita menjalankan perintah Allah dan meninggalkan larangannya-Nya adalah ibadah. Kita berbuat kebaikan kepada sesama muslim bahkan sesama manusia atau kepada binatang sekalipun karena Allah adalah ibadah. Jadi Ibadah itu artinya luas bukan hanya ibadah mahdhoh (murni) saja seperti shalat, puasa, zakat dan haji, seperti dalam penjelasan Nabi saw bahwa cabang-cabang keimanan itu lebih dari enam puluh atau lebih dari tujuh puluh cabang.

Hati yang selalu terpaut dengan Allah SWT...

Seorang muslim/muslimah adalah manusia yang beriman bahwa Allah SWT adalah Rabbnya, dan Muhammad Saw adalah nabi-Nya, serta islam pedoman hidupnya. Dampak itu semua nampak jelas dalam perkataan, perbuatan, dan amalannya. 
Dia akan menjauhi apa-apa yang menyebabkan murka Allah, takut dengan siksa-Nya yang teramat pedih, dan tidak menyimpang dari aturan-Nya. Keimanan yang berbuah pada ketaatan kepada Allah SWT terhadap segala perintah dan larangan yang telah ditetapkan secara sunguh-sungguh. 

Keterpaduan Da'i dan Da'iyah...

Hukum amal dakwah adalah wajib syarii, tidak gugur selagi tidak ada pemerintahan yang bertanggungjawab dalam mempraktekkan dan mempertahankan Islam, bahkan setelah adanya pemerintahan Islam pun dakwah masih wajib guna mempertahankan negara Islam. 

Adapun status kewajibannya adalah Fardu `ain, bukan kifayah. Karena itu seorang mukmin wajib melakukannya, jika tidak melakukannya akan berdosa, baik laki-laki maupun perempuan.

Seperti yang disebutkan dalam firman Allah : Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (At-taubah : 71) 

Saatnya kita sadar...



“Kalian tidak akan masuk surga, hingga kalian  beriman, dan tidak beriman sampai kalian mencintai.”

Setiap kali kita memandang sejarah kehancuran bangunan ummat, kita akan mendapati bahwa faktor utama yang merusak bangunannya adalah perpecahan, perselisihan dan fanatisme madzhab yang tanpa diiringi dengan kejernihan pandangan. Bila kita sadar, keimanan akan menggerakkan hati mereka yang mati, lantas menyatukan mereka, maka bangunan Islam akan kembali berdiri dengan kokoh. Cinta dan persaudaraan adalah pangkal kekuatan dan kejayaan, sedangkan perselisihan dan perpecahan adalah pangkal kehinaan dan kerendahan.

Menyeluruhnya dakwah...

Dakwah Islam adalah dakwah paripurna yang berlandaskan ilmu, amal dan perjuangan. Dakwah Islam tidak bisa menerima sebagian tanpa disertai sebagian yang lain. Seorang muslim harus mengetahui yang halal dan yang haram, berpegang teguh kepada kebenaran dan berjuang melawan para pembela kebatilan.

Seorang muslim adalah pelajar yang mempelajari agama, pelaksana yang mengamalkannya, sekaligus tentara yang berjihad. Seorang muslim tidak sempurna keislamannya kecuali bila ia mempunyai ketiga kriteria ini secara utuh.

Luar biasanya Al-Quran...

Membaca Al Quran tidak akan mengurangi waktumu. Justru sebaliknya, ia akan menambah waktumu. Secara hitungan matematika dunia, me...

ARTIKEL POPULER

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...